skip to main |
skip to sidebar

LANGKAH-LANGKAH MEMPERKUAT
CAHAYA BATHIN
Ada beberapa langkah yang memiliki
pengaruh positif terhadap
kecemerlangan Cahaya Batin manusia,
yaitu :
> 1. Zikir
> 2. Do'a
> 3. Shalawat Nabi
> 4. Makanan Halal dan Bersih
> 5. Berpantang Dosa Besar
> 6. Berhati Ikhlas dan Berpantang Tamak
> 7. Bersedekah ( Dermawan )
> 8. Mengurangi Makan dan Tidur
> 9. Zikir Kalimah Toyyibah
> 10. Mengenakan Wewangian
Beberapa hal tersebut diatas apabila
diamalkan, Insya Allah seseorang akan
memiliki cahaya/kekuatan batin yang
kuat sehingga apa yang terprogram
dalam hati akan cepat terlaksana.
1. Z i k i r.
Zikir memiliki pengaruh yang kuat
terhadap kecemerlangan cahaya batin.
Hati yang selalu terisi dengan Cahaya
Zikir akan memancarkan Nur Allah dan
keberadaannya akan mempengaruhi
perilaku yang serba positif.
Kebiasaan melakukan zikir dengan baik
dan benar akan menimbulkan
ketentraman hati dan menumbuhkan
sifat ikhlas. Hikmah zikir amatlah besar
bagi orang yang ingin membangkitkan
kekuatan indera keenamnya ( batin ).
Ditinjau dari sisi ibadah, zikir merupakan
latihan menuju Ikhlasnya hati dan
Istiqomah dalam berkomunikasi dengan
Al Khaliq ( Sang Pencipta ).
Ditinjau dari sisi kekuatan batin, zikir
merupakan metode membentuk dan
memperkuat Niat Hati, sehingga dengan
izin Allah SWT, apa yang terdapat dalam
hati, itu pula yang akan dikabulkan oleh
Allah SWT. Dengan kata lain, zikir
memiliki beberapa manfaat,
diantaranya : Membentuk, Memperkuat
Kehendak, Mempertajam Batin, sekaligus
bernilai Ibadah.
Dengan zikir berarti membersihkan
dinding kaca batin, ibarat sebuah
bohlam lampu yang tertutup kaca yang
kotor, meyebabkan cahaya-sinarnya
tidak muncul keluar secara maksimal.
Melalui zikir, berarti membersihkan
kotoran yang melekat sehingga kaca
menjadi bersih dan cahaya-sinarnya
bisa memancar keluar.
Sampai disini mungkin timbul suatu
pertanyaan. Apakah zikir memiliki
pengaruh terhadap kekuatan batin?
untuk menjawab pertanyaan ini, kiranya
perlu diketahui bahwa hal tersebut
merupakan bagian dari karunia Allah
SWT.
Dalam sebuah Hadist. Bahwa dengan
selalu mengingat Allah menyebabkan
Allah membalas ingat kepada seorang
hamba-Nya “Aku selalu menyertai dan
membantunya, selama ia mengingat
Aku ” karena itu, agar Allah senantiasa
mengingat Anda, perbanyaklah
mengingat-Nya dengan selalu berzikir.
2. Do’a.
Seseorang yang ingin memiliki kekuatan
Rohani pada dirinya, hendaklah
memperbanyak do ’a kepada orang lain,
disamping untuk diri sendiri dan
keluarganya. Caranya, cobalah anda
mendo ’akan seseorang yang anda kenal
dimana orang itu sedang mengalami
kesulitan.
Menurut para Ahli Hikmah, seseorang
yang mendo ’akan sesamanya maka
reaksi do’a itu akan kembali kepadanya,
contohnya : Anda mendo’akan si “A”
yang sedang dirundung duka agar Allah
berkenan mengeluarkan dari kedukaan,
maka yang pertama kali merasakan
reaksi do ’a itu adalah orang yang
mendo’akan, baru setelah itu reaksi
do’anya untuk orang yang dituju.
Karena itu semakin banyak anda berdo’a
untuk kebaikan sahabat, guru anda,
orang yang dikenal / tidak dikenal, siapa
pun juga, maka akan semakin banyak
kebaikan yang akan anda rasakan.
Sebaliknya jika anda berdo ’a untuk
kejelekan si “A” sementara si “A” tidak
patut di do’akan jelek maka reaksi do’a
tersebut akan kembali kepada Anda.
Contohnya : Anda berdo ’a agar si “A”
jatuh dari sepeda motor, maka boleh
jadi anda akan jatuh sendiri dari sepeda
motor, setelah itu baru giliran si “A”.
Tetapi dalam sebuah Hadist disebutkan,
Seseorang yang berdo ’a untuk kejelekan
sesamanya maka do’a itu melayang-
layang di Angkasa, jika orang yang
dido ’akan jelek itu orang zalim maka
Allah SWT akan memperkenankan
do ’anya, sebaliknya jika orang yang
dituju itu orang baik-baik, maka do’a itu
akan kembali menghantam orang yang
berdo ’a.
Dari sini lalu timbul konsep “Saling Do’a
men Do’akan” seperti guru memberikan
atau menghadiahkan do’a berupa surat
Al Fatehah kepada muridnya. Sebaliknya
murid pun berdo ’a untuk kebaikan
gurunya. Lalu siapa yang patut disebut
guru?. Guru adalah orang yang
memberikan informasi pengetahuan
akan suatu ilmu. Dimana ilmu itu
selanjutnya kita amalkan dan
bermanfaat.
Dalam Hadist yang lain disebutkan
bahwa do ’a yang mudah dikabulkan
adalah do’a yang diucapkan oleh
seorang sahabat Secara Rahasia,
Mengapa ?? ini disebabkan karena do’a
itu diucapkan secara Ikhlas. Keikhlasan
memiliki nilai (kekuatan) yang sangat
tinggi.
Karena itu perbanyaklah berdo’a atau
mendo’akan sesama yang sedang
dirundung duka. Insya Allah reaksi dari
do ’a itu akan anda rasakan terlebih
dahulu, selanjutnya baru orang yang
anda do ’akan, semoga .
Di samping itu, mendo’akan seseorang
memiliki nilai dalam membentuk
kepribadian lebih peka terhadap
persoalan orang lain. Jika hal ini dikaitkan
dengan janji Allah ; Bahwa barang siapa
yang mengasihi yang dibumi maka
yang dilangit akan mengasihinya,
berlakulah hukum timbal balik. Siapa
menanam kebajikan ia akan menuai
kebajikan juga, sebaliknya jika ia
menanam kezaliman maka ia pun akan
menuai kezalimannya juga.
3. Shalawat Nabi.
Mungkin sudah sering/ pernah
mendengar nasihat dari orang-orang tua
kita bahwa kalau ada bahaya, kita
disarankan salah satunya adalah untuk
memperbanyak Shalawat kepada Nabi
Muhammad SAW.
Konon dengan mendo’akan keselamatan
kepada Nabi, Allah SWT akan mengutus
para malaikat untuk ganti mendo ’akan
keselamatan kepada orang itu. Dalam
beberapa hadist Rasullullah SAW banyak
kita temukan berbagai keterangan
tentang Afdalnya bershalawat.
Diantaranya : “Setiap do’a itu Terdindingi,
sampai dibacakan Shalawat atas Nabi “.
(HR. Ad- Dailami).
Pada hadist yang lain yang diriwayatkan
oleh Ahmad, Nasa ’I dan Hakim,
Rasullullah SAW bersabda, “Barang
siapa membaca Shalawat untuk Ku
sekali, maka Allah membalas Shalawat
untuknya sepuluh kali dan
menanggalkan sepuluh kesalahan
darinya dan meninggikannya sepuluh
derajat “.
Yang berkaitan dengan urusan kekuatan
batin, terdapat dalam Hadist yang
diriwayatkan Ibnu Najjar dan Jabir,
“ Barangsiapa ber-Shalawat kepada Ku
dalam satu hari seratus kali, maka Allah
SWT memenuhi seratus hajatnya, tujuh
puluh daripadanya untuk kepentingan
akhiratnya dan tiga puluh lagi untuk
kepentingan dunianya ”.
Berdasarkan hadist-hadist itu, benarlah
adanya jika orang-orang tua kita
menyuruh anak-anaknya untuk
memperbanyak shalawat kepada anak
cucunya. Karena selain merupakan
penghormatan kepada junjungannya
juga memiliki dampak yang amat
menguntungkan dunia dan akhirat.
4. Makanan Halal dan Bersih.
Seseorang yang ingin memiliki kekuatan
batin bersumber dari tenaga Ilahiyah
harus memperhatikan makanannya.
Baginya pantang kemasukan makanan
yang haram karena keberadaannya akan
mengotori hati. Makanan yang haram
akan membentuk jiwa yang kasar dan
tidak religius. Makanan yang haram
disini bukan hanya dilihat dari jenisnya
saja ( Misal ; Babi, bangkai, dll. ), tapi
juga dari cara dan proses untuk
mendapatkan makanan tersebut.
Efek dari makanan yang haram ini
menyebabkan jiwa sulit untuk diajak
menyatu dengan hal-hal yang positif,
seperti : dibuat zikir tidak khusuk,
berdo ’a tidak sungguh-sungguh dan hati
tidak tawakal kepada Allah.
Daging yang tumbuh dari makanan
yang haram selalu menuntut untuk
diberi makanan yang haram pula.
Seseorang yang sudah terjebak dalam
lingkaran ini sulit untuk melepaskannya,
sehingga secara tidak langsung
menjadikan hijab atau penghalang
seseorang memperoleh getaran/ cahaya
Illahiyah.
Disebutkan, setitik makanan yang haram
memberikan efek terhadap kejernihan
hati. Ibarat setitik tinta yang jatuh diatas
kertas putih, semakin banyak unsur
makanan haram yang masuk, ibarat
kertas putih yang banyak ternoda tinta.
Sedikit demi sedikit akan hitamlah
semuanya.
Hati yang gelap menutupi hati nurani,
menyebabkan tidak peka terhadap nilai-
nilai kehidupan yang mulia. Seperti kaca
yang kotor oleh debu-debu, sulitlah
cahaya menembus nya. Tapi dengan
zikir dan menjaga makanan haram, hati
menjadi bersih bercahaya.
Begitu halnya jika anda menghendaki
dijaga para malaikat Allah, jangan kotori
diri anda dengan darah dan daging yang
tumbuh dari makanan yang haram.
Inilah mengapa para ahli Ilmu batin
sering menyarankan seorang calon
siswa yang ingin suatu ilmu agar
memulai suatu pelajaran dengan laku
batin seperti puasa.
Konon, puasa itu bertujuan menyucikan
darah dan daging yang timbul dari
makanan yang haram. Dengan kondisi
badan yang bersih, diharapkan ilmu
batin lebih mampu bersenyawa dengan
jiwa dan raga. Bahkan ada suatu
keyakinan bahwa puasa tidak terkait
dengan suatu ilmu. Fungsinya hanya
untuk mempersiapkan wadah yang
bersih terhadap ilmu yang akan
diwadahinya.
5. Berpantang Dosa Besar.
Berpantang melakukan dosa-dosa besar
juga dalam upaya membersihkan
rohani. Di mana secara umum
kemudian dikenal pantangan Ma-Lima
yaitu : Main, Madon, Minum, Maling dan
Madat, yang artinya berjudi, zina,
mabuk-mabukan, mencuri dan
penyalahgunaan narkotika.
Walau lima hal ini belum mencakup
keseluruhan dosa besar tetapi kelimanya
diyakini sebagai biang dari segala dosa.
Judi umpamanya, seseorang yang
sudah terlilit judi andaikan ia seorang
pemimpin maka cendrung korup dan
hanya kecil kejujuran yang masih tersisa
padanya.
Begitu halnya dengan perbuatan seperti
zina, mabuk-mabukan, mencuri, dan
menyalahgunakan narkotika diyakini
sebagai hal yang mampu
menghancurkan kehidupan manusia.
Karena itu orang yang ingin memiliki
kekuatan batin yang hakiki hendaknya
mampu menjaga diri dari lima perkara
ini.
Seseorang yang sudah “Kecanduan”
satu diantara yang lima perkara ini
bukan hanya rendah dipandang Allah,
dipandangan manusia biasa pun ikut
rendah. Nurani yang kotor
menyebabkan do ’a-do’a tidak terkabul.
Beberapa langkah apabila dilakukan
secara konsekuen, Insya Allah
menjadikan manusia “Sakti” Dunia
Akhirat. Getaran batinnya kuat, ibarat
voltage pada lampu yang selalu di
tambah getarannya sementara kaca
yang melingkari lampu itu pun selalu
dibersihkan melalui laku-laku yang
positif.
Hikmah suatu amalan (bacaan) biasanya
terkait dengan perilaku manusianya.
Dalam hadistnya Turmudzi
meriwayatkan, “Seseorang yang
mengucapkan Laa ilaha illallah dengan
memurnikan niat, pasti dibukakan
untuknya pintu-pintu langit, sampai
ucapannya itu dibawa ke Arsy selagi
dosa-dosa besar dijauhi ”.
Hadist ini bisa ditafsiri bahwa suatu
amalan harus diimbangi dengan
pengamalan. Adanya keselarasan antara
ucapan mulut dengan tindakan
menyebabkan orang itu mencapai
hakikatnya “Kekuatan-Kesaktian”.
6. Berhati Ikhlas Berpantang Tamak.
Seseorang yang memiliki hati ikhlas,
tidak rakus dengan dunia lebih memiliki
kepekaan dalam menyerap pelajaraan
ilmu batin. Secara logika, orang yang
berhati ikhlas lebih mudah memusatkan
konsentrasinya pada satu titik tujuan,
yaitu persoalan yang dihadapinya.
Disebutkan bahwa orang yang berhati
ikhlas diperkenankan Allah SWT untuk :
Berbicara, Melihat, Berpikir dan
Mendengar bersama dengan Lidah,
Mata, Hati dan Telinga Allah ( baca hadist
Thabrani ).
Hati yang ikhlas identik dengan ketiadaan
rasa tamak. Orang yang memiliki sifat
ikhlas dan tidak tamak amat disukai
manusia. Rasullullah SAW pernah
didatangi seorang sahabat yang ingin
meminta resep agar disukai Allah SWT
dan disukai sesama manusia. Rasullullah
bersabda : “Jangan rakus dengan Harta
Dunia, tentu Allah akan menyenangimu,
dan jangan tamak dengan hak orang
lain, tentu banyak orang yang
menyenangimu “.
Hadist ini jika dikaitkan dengan
kehidupan para spiritualis mereka
memiliki power pertama kali disebabkan
karena kharismanya, jika seseorang itu
banyak disukai sesamanya maka apa
yang diucapkan pun akan dipercaya.
Sebaliknya walau orang itu berilmu
tinggi tetapi kalau tidak disukai
sesamanya maka apa yang
diucapkannya pun tidak akan ada yang
menggubris.
7. Bersedekah ( Dermawan ).
Bersedekah selain untuk tujuan ibadah
sosial juga memiliki pengaruh terhadap
menyingkirnya bahaya. Banyak hadist
membahas masalah sedekah berkaitan
dengan tolak-balak. Dengan banyak
bersedekah, seseorang akan
memperoleh limpahan rezeki dan
kemenangan.
Rasullullah SAW bersabda : “Wahai
Manusia !! Bertobatlah Kamu kepada
Allah sebelum mati, segeralah Kamu
beramal saleh sebelum Kamu sibuk,
sambunglah hubungan dengan
Tuhanmu dengan memperbanyak zikir
dan memperbanyak amal sedekah
dengan rahasia maupun terang-
terangan. Tuhan akan memberi Kamu
rezeki, pertolongan dan kemenangan ”.
(HR Jabir RA)
Dalam kehidupan bermasyarakat kita
bisa melilhat hikmah dari sedekah ini.
Seseorang yang memiliki jiwa
dermawan amat disukai sesamanya.
Logikannya jika orang itu disukai banyak
orang maka ia jauh dari bahaya.
Kisah nyata terjadi pada suatu daerah.
Dua orang yang sama-sama memiliki
ilmu batin memiliki kebun mangga.
Ketika hampir musim panen, mangga
dari seorang dermawan itu tidak ada
yang mencurinya, sebaliknya kebun
mangga yang milik orang bakhil itu
banyak dicuri anak-anak muda.
Disinyalir, pencurian itu terjadi karena
unsur “Tidak Suka” dengan pemilik
kebun. Sedangkan anak-anak muda itu
mengapa tidak mau mencuri kebun
milik sang dermawan, rata-rata mereka
mengutarakan keengganannya “Ah dia
orang baik kok kita kerjain” katanya, nah
anda ingin menang dan sakti dunia
akhirat ?? perbanyaklah sedekah.
8. Mengurangi Makan dan Tidur.
Sebuah laku tirakat yang universal yang
berlaku untuk seluruh makhluk hidup
adalah puasa. Ulat agar bisa terbang
menjadi kupu-kupu harus berpuasa
terlebih dahulu, ular agar bisa ganti kulit
harus puasa terlebih dahulu dan ayam
agar bisa beranak pun harus puasa
terlebih dahulu.
Secara budaya banyak hal yang dapat
diraih melalui puasa. Orang-orang
terdahulu tanpa mempermasalahkan sisi
ilmiahnya aktivitas puasa telah berhasil
mendapatkan segala daya linuwih atau
keistimewaan melalui puasa yang lazim
disebut tirakat.
Para spiritualis mendapatkan Wahyu
maupun Wisik ( Petunjuk ghoib melalui
puasa terlebih dahulu ). Dan tradisi itu
masih terus dilestarikan orang-orang
zaman sekarang. Intinya sampai
kapanpun orang tetap meyakini dengan
mengurangi makan dalam hal ini adalah
puasa, seseorang akan memperoleh
inspirasi baru, intuisi.
Tradisi kita, ketika secara budaya sudah
tiada lagi tempat untuk bertanya, melalui
puasa seseorang bisa mendapatkan
telinga yang baru dan ketika ia tak lagi
mampu berkata, dengan puasa
seseorang mampu memperoleh mulut
yang baru.
Secara logika, puasa adalah bentuk
kesungguhan yang diwujudkan melalui
melaparkan diri. Hanya orang-orang
yang sungguh-sungguh saja yang
sanggup melakukannya. Aktivitas ini jika
ditinjau dari sisi ilmu batin, menunjukan
bahwa kesungguhan memprogram niat
itu yang akan menghasilkan kelebihan-
kelebihan.
Hati yang diprogram dengan singguh-
sungguh akan menghasilkan seseuatu
yang luar biasa. Karena itu dalam
menempuh ilmu batin, aktivitas puasa
mutlak dibutuhkan. Karena didalam
puasa itu tidak hanya bermakna
melaparkan diri semata. Lebih dari itu,
berpuasa memiliki tujuan manonaktifkan
nafsu syaithoni.
Non aktifnya nafsu secara tidak langsung
meninggikan taraf spiritual manusia,
sehingga orang-orang yang berpuasa
do ’a nya makbul dan apa yang terusik
dalam hatinya sering menjadi
kenyataan.
Menurut Imam Syafi’i dengan berpuasa
seseorang terhindar dari lemah
beribadah, berat badanya, keras hatinya,
tumpul pikirannya dan kebiasaan
mengantuk. Dari penyelidikan ilmiah
puasa diyakini memiliki pengaruh
terhadap kesehatan manusia.
Orang-orang terdahulu memiliki
ketajaman mata batin dan manjur Ilmu
kanuragannya karena kuatnya dalam
Laku Melek atau mengurangi tidur
malam hari. Bahkan burung hantu yang
dilambangkan sebagai lambang ilmu
pengetahuan pun disebabkan karena
kebiasannya “Tafakur ” pada malam
hari.
Dalam filosofi ilmu batin,
memperbanyak tafakur malam hari
menyebabkan seseorang memiliki “Mata
Lebar”, yaitu ketajaman dalam melihat
dan membaca apa-apa yang tersirat
dibalik kemisterian alam semesta ini.
Bahkan ketika agama Islam datang pun
membenarkan informasi sebelumnya
yang dibawa oleh agama lain. Hanya
Islam yang menginformasikan bahwa
dengan ber-Tahajud ketika orang lain
terlelap dalam tidur, menyebabkan
orang itu akan ditempatkan Allah SWT
pada tempat yang terpuji.
Pada keheningan malam terdapat
berbagai hikmah. Melawan “Nafsu” tidur
menuju ibadah kepada Allah SWT dan
dalam suasana hening itu konsentrasi
mudah menyatu. Saat inilah Allah SWT
memberikan keleluasaan kepada hamba-
hamba-Nya guna memohon apa saja
yang diinginkan.
Banyak para spiritualis yang memiliki
keunikan dalam ilmu batin bukan karena
banyaknya ilmu dan panjangnya amalan
yang dibacanya, melainkan karena laku
prihatin pada malam harinya. Insya
Allah seseorang yang membiasakan diri
tafakur dan beribadah pada malam hari,
maka Allah SWT akan memberikan
keberkahan dalam ilmu-ilmunya.
9. Zikir Kalimah Toyyibah.
Ada hal-hal yang tersembunyi dibalik
zikir kalimah Toyyibah “La ilaha illallah”
pertama, zikir ini disebut sebagai sebaik-
baiknya zikir, berdasarkan hadist riwayat
Nasa ’i, Ibnu Majjah, Ibnu Hibban, dan
Hakim “Afdhaluzd dzikri La ilaha
Illallaahu” yang artinya : sebaik-baik zikir
adalah La ilaha illallah.
Kemudian pada hadist yang lain
disebutkan bahwa dengan zikir kalimah
Toyyibah ini menyebabkan pintu langit
terbuka, selagi yang membaca kalimah
itu orang yang menjauhi dosa-dosa
besar. Sedangkan dengan mengamalkan
zikir kalimah ini, sepanjang zikir ini
diamalkan secara tulus ikhlas
mengharap ridho Allah SWT, justru
Allah yang akan mengatur potensi
manusia.
Dalam hadist Qudsy tersurat : “Barang
siapa disibukkan zikir kepada-Ku
sehingga tidak sempat memohon dari-
Ku maka Aku akan memberikan yang
terbaik dari apa saja yang Ku berikan ”.
Artinya : hikmah dari zikir kalimah
Toyyibah itu, seseorang akan diberi
karunia oleh Allah SWT walau jenis
karunia itu tidak dimintanya. Ini Yang
disebut dengan rezeki yang tak terduga-
duga.
Hikmah lain, dari membiasakan diri
berzikir kalimah “La ilaha illallah “, secara
tidak langsung berarti merekam kalimat
itu pada alam bawah sadar manusia.
Seseorang dalam kondisi kritis, kalimat
yang reflek muncul dari alam bawah
sadarnya adalah kalimat yang paling
akrab dengan lidah dan hatinya.
Maka, seseorang yang istiqomah dalam
zikir kalimah “La ilaha illallah “, bila saat
sakaratul maut hendak menjemput,
Insya Allah kalimat itu yang akan
muncul dari mulutnya. Dengan
demikian berlakulah janji Allah SWT
bahwa seseorang yang diakhir hayatnya
mengucapkan kalimat “La ilaha illallah”,
maka sorgalah balasannya.
Menyimak hal-hal dibalik kalimah
Toyyibah ini, ada dua keuntungan yang
bisa kita raih. Pertama keuntungan dunia
berupa ketenangan hati akibat bias dari
aktivitas zikir, juga keuntungan dunia
berupa datangnya karunia yang
dilimpahkan yang lebih baik dibanding
hamba lain yang meminta.
Sedangkan pahala akhiratnya adalah
menemui kematian dengan Khusnul
Khotimah. Semoga kita termasuk
hamba-hamba Allah yang memperoleh
keuntungan dunia akhirat. Amin.
10. Memakai Wewangian.
Kalau kekuatan fisik seseorang
ditentukan dari ototnya. Kekuatan ilmu
batin ditentukan dari roh. Memperkuat
roh, salah satu caranya dengan
wewangian. Karena itu orang yang
sedang mempelajari ilmu batin atau
ingin melestarikan kekuatan ilmu batin
dalam jiwa raganya, ia dituntut selalu
mengenakan wewangian.
Disebutkan, wewangian amat dibenci
setan dan disukai para malaikat.
Pengertian “Wangi” disini bukan sekedar
wangi karena bau minyak wangi. Wangi
yang hakiki adalah wanginya
kepribadian, dan itu berarti Ahlakul
Karimah. Tentu saja, melengkapi antara
syareat dan hakikat itu seseorang
memang disunahkan memakai
wewangian sekaligus menghiasi diri
dengan Ahlak yang baik.
Seluruh kekuatan yang ada didunia
ini, bersumber dari kuasa Allah SWT. Segala
usaha pencapaian manusia dalam
meningkatkan konsentrasi batinnya kepada
Allah, akan memberikan konsesi yang besar
berupa pengetahuan dan kemampuan
melebihi rata-rata orang lain.CARA MENAJAMKAN MATA BATIN
Mata Batin atau dalam Istilah Tasawuf
Al Bathinah merupakan Indera keenam yang
Allah berikan kepada setiap manusia, Mata
Batin ibarat kaca yang dapat melihat
sesuatu (bercermin) atau ibarat pisau
tumpul yang dapat diasah sampai tajam
sehingga dapat memotong sesuatu benda.
Setiap manusia mempunyai mata batin
yang asal mulanya Allah ciptakan bersih
tanpa ada noda sedikitpun tetapi kemudian
dinodai oleh sifat-sifat buruk dan
keduniawian.
Ketika kita masih kecil mata batin kita masih
bersih sehingga dapat melihat hal-hal yang ghoib
dan mudah menangkap Ilmu Pengetahuan
dengan mudah tetapi setelah kita besar mata batin
kita sudah ternodai oleh sifat-sifat buruk dan
keduniawian sehingga tidak dapat melihat lagi hal-
hal yang ghoib (tertutup), tempat mata hati adalah
Qalbu ( hati nurani ) yang selalu berubah setiap
saat sesuai dengan perbuatan manusia sehari-hari
jika berbuat jahat akan lupa kepada Allah maka
Qalbu itu menjadi kotor dan jika berbuat baik atau
berzikir Qalbu itu akan bersih kembali.
Dalam Hadist Nabi disebutkan : "Hati
manusia itu ibarat sehelai kain putih yang
apabila manusia itu berbuat dosa maka
tercorenglah / ternodailah kain putih
tersebut dengan satu titik noda kemudian
jika sering berbuat dosa lambat-laun
sehelai kain putih itu berubah menjadi
kotor / hitam". Jika hati nurani sudah kotor
maka terkunci nuraninya akan sulit menerima
petunjuk dari Allah.
Ada Empat Tahapan Untuk Menajamkan
atau Membersihkan Mata Batin :
Pertama, Mengosongkan hati dari sifat-sifat
buruk seperti iri, dengki, benci, dan dari sifat
keduniawian.
Kedua, Membuang daya khayal yang
mengganggu keyakinan hati kemudian berpikir
tentang hal-hal yang ghoib yang kita ketahui.
Ketiga, Mendawamkan
( Kontinue ) sholat dan berzikir pada malam hari
karena kesepian malam dapat menambah
kekhusuk-an hati.
Keempat,
Meningkatkan Iman dan Kecintaan kepada Allah
yaitu : mencintai Allah dari segala-galanya selalu
Munajad ( mohon pertolongan Allah ), dan
Istikharoh ( meminta petunjuk dari Allah SWT )
DZAT ALLAH-->NUR DZAT--> NURULLAH-->
MUHAMMAD(insan)--> NUR MUHAMMAD
DZAT ALLAH--> JIBRIL & MUKARABIN
KITAB WASILAH&WASITAH
pengenalan ilmu marifat
Alhamdulillahirabbil Alamin wasalatu
wassalamu ala sayiddina mursaliin wa'ala
alihi wa'ashabihi aj'main..
adapun kemudian daripada itu ketahui
olehmu hai salik bahwasanya tiada
sempurna bagi seseorang mengenal diri
melainkan mengetahui akan asal kejadian
diri,yang mula-mula diciptakan oleh Allah
Ta'ala..pasal pada menyatakan asal yang
mula-mula di jadikan oleh Allah seperti pada
sabda Abdullah ibn Abbas (ra) dari junjungan
kita Nabi SAW : yang mula-mula di jadikan
oleh Allah Ta'ala yaitu Nur NabiMu..
> la yaskuluhul lahu'illah = tiada yang
menyebut Allah hanya Allah,
> laya rulahu ilallah = tiada yang melihat
Allah hanya Allah,
>laya budullahu ilallah = tiada yang
menyembah Allah hanya Allah
seperti firman Allah di dalam hadits qudsi :
dzahir tuhan didalam bathin hamba-
nya,manusia itu rahasiaku dan aku pun
rahasianya(insanu sirri wa ana sirrahu)
bermula insan itu rahasiaku dan rahasiaku
itu sifatku dan sifat-ku tiada lain dari
padanya(al insanu sirri wassirri wa
sifatun,wasifatin laghoiri) , pada hakikatnya
bagi Allah katanya Allah kepada
Muhammad..ini di dalam Al-Adzhim..
(jistumul insanu
wanafsuhu,wakalbuhu,warkuhu,wassamahu,wabsarrahu
warruha walisanuhu,wayajiduhu,lahuahila
ana walla ana gairuhu : tubuh manusia dan
hatinya dan
nyawanya,pendengarannya,penglihatannya,tangan
dan kakinya sekalian itu aku nyatakan
dengan diriku bagi dirinya,dan insan itu tiada
lain dari pada aku dan aku pun tiada lain dari
padanya...maka tiada engkau berani akan di
aku selama engkau masih tiada fana di
dalamku,syahtiada ayal,terhila dan yaitu
rupaku padamu..
maka yaitulah yang dipegang oleh orang
arif'billah,firman Allah : wa huwa ma'akum
Ainama kuntum " ada tuhan kamu serta
kamu",wa fi'an fusikum affala tafsiruun "dan
didalam dirimu pun Aku maka tiadalah kamu
lihat akan di Aku,karena Aku terlebih
hampor dekat pada alat matamu yang
putih,terlebih Aku hampir padamu.."
maka memadailah keterangan dan nash
Quran maka sampai disinilah keterangan-
keterangan ajesamm andrakul idrakul
fahwa idrak,bermula lemah dari pada
pendapat maka yaitulah yang di dapat La
Illaha Ila Allah,Ana...tiada tuhan melainkan
Aku...
Adapun La Illaha --> isyarat wujd makhluk,
Ila Allah --> isyarat Qadim
(bersambung..)
Nabi saw memperbolehkn brbuat
Bid'ah hasanah. Nabi saw memperbolehkn kita
melakukn Bid'ah hasanah selama hal itu baik
dan tidak menentang syariah, sebagaimana
sabda beliau saw: "Barangsiapa membuat buat
hal baru yang baik dalam Islam, maka baginy
pahalanya dan pahala orang yg mengikutiny
dan tak brkurang sedikitpun dari pahalany, dan
barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk
dalam Islam, maka baginya dosany dan dosa
orang yg mengikutinya dan tak dikurangkn
sedikitpun dari dosanya" (Shahih Muslim hadits
no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih
Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan
Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan byk lagi).
Hadits ini menjelaskan makna Bid'ah hasanah
dan Bid'ah dhalalah. Perhatikan hadits beliau saw,
bukankah beliau saw menganjurkan,
maksudnya bila kalian mempunyai suatu
pendapat atau gagasan baru yang membuat
kebaikan atas Islam maka perbuatlah.., alangkah
indahny bimbingan Nabi saw yang tdk
mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa
ummatny bkn hidup untuk 10 atau 100
tahun, tp ribuan tahun akn brlanjut dan akan
muncul kemajuan zaman, modernisasi,
kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka
tentunya pastilah diperlukn hal hal yg baru
demi menjaga muslimin lebih trjaga dalam
kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan
agama ini, yg tetap akn bisa dipakai hingga
akhir zaman, inilah makna ayat : "ALYAUMA
AKMALTU LAKUM DIINUKUM..", yg artinya
"hari ini Kusempurnakn utk kalian agama
kalian, kusempurnakn pula kenikmatan bagi
kalian, dan kuridhoi Islam sebagai agama kalian",
Maksudny semua ajaran telah sempurna, tak
perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki
agama ini, semua hal yg baru selama itu baik
sudah masuk dalam kategori syariah dan sdh
direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkh
sempurnanya Islam, Bila yang dimaksud adalah
tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu
salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak
ayat ayat lain turun, masalah hutang dll, berkata
para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah
Almukarramah sebelumnya selalu masih
dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya
orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini
maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram,
maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh
boleh saja. Namun tentunya bukan membuat
agama baru atau syariat baru yang bertentangan
dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau
menghalalkan apa apa yang sudah diharamkan
oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna
hadits beliau saw : "Barangsiapa yang membuat
buat hal baru yang berupa keburukan...dst",
inilah yang disebut Bid'ah Dhalalah. Beliau saw
telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman
akan berkembang, maka beliau saw
memperbolehkannya (hal yang baru berupa
kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati
kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak
tercekik dengan hal yang ada dizaman kehidupan
beliau saw saja, dan beliau saw telah pula
mengingatkan agar jangan membuat buat hal
yang buruk (Bid'ah dhalalah). Mengenai pendapat
yang mengatakan bahwa hadits ini adalah
khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini
adalah pendapat mereka yang dangkal dalam
pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas
jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk
sedekah saja, terbukti dengan perbuatan Bid'ah
hasanah oleh para Sahabat dan Tabi in. Siapakah
yang pertama memulai Bid'ah hasanah setelah
wafatnya Rasul saw Ketika terjadi pembunuhan
besar besaran atas para sahabat (Ahlul
yamaamah) yang mereka itu para Huffadh (yang
hafal) Alqur an dan Ahli Alqur an di zaman
Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata
Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :
"Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan
melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah
dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi
pada para Ahlulqur an, lalu ia menyarankan agar
Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan
dan menulis Alqur an, aku berkata : Bagaimana
aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh
Rasulullah.., maka Umar berkata padaku bahwa
Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan
merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku
sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku
setuju dan kini aku sependapat dengan Umar,
dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan
kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat
jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang
ikutilah dan kumpulkanlah Alqur an dan tulislah
Alqur an..!" Berkata Zeyd : "Demi Allah sungguh
bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung
daripada gunung gunung tidak seberat
perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur
an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu
yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw", maka
Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu
adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku
sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku
setuju dan kini aku sependapat dengan mereka
berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur an".
(Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768). Nah
saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas
Abubakar shiddiq ra mengakui dengan
ucapannya : "sampai Allah menjernihkan dadaku
dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan
Umar", hatinya jernih menerima hal yang baru
(Bid'ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur an,
karena sebelumnya alqur an belum dikumpulkan
menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan
sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di
tembok, dihafal dll, ini adalah Bid'ah hasanah,
justru mereka berdualah yang memulainya. Kita
perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan
(menghilangkan) Bid'ah hasanah mengenai
semua Bid'ah adalah kesesatan, diriwayatkan
bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat
subuh beliau saw menghadap kami dan
menyampaikan ceramah yang membuat hati
berguncang, dan membuat airmata mengalir..,
maka kami berkata : "Wahai Rasulullah.. seakan
akan ini adalah wasiat untuk perpisahan.., maka
beri wasiatlah kami.." maka rasul saw bersabda :
"Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada
Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun
kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika,
sungguh diantara kalian yang berumur panjang
akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan
pendapat, maka berpegang teguhlah pada
sunnahku dan sunnah khulafa urrasyidin yang
mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat
dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk
kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal
yang baru, sungguh semua yang Bid;ah itu
adalah kesesatan". (Mustadrak Alasshahihain
hadits no.329). Jelaslah bahwa Rasul saw
menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah
beliau dan sunnah khulafa urrasyidin, dan
sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal
yang baru selama itu baik dan tak melanggar
syariah, dan sunnah khulafa urrasyidin adalah
anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra
dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan
menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang
baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu
pembukuan Alqur an, lalu pula selesai
penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan
ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi
Thalib kw. Nah.. sempurnalah sudah keempat
makhluk termulia di ummat ini, khulafa
urrasyidin melakukan Bid'ah hasanah, Abubakar
shiddiq ra dimasa kekhalifahannya
memerintahkan pengumpulan Alqur an, lalu
kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa
kekhalifahannya memerintahkan tarawih
berjamaah dan seraya berkata : "Inilah sebaik
baik Bid'ah!"(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu
pula selesai penulisan Alqur an dimasa Khalifah
Utsman bin Affan ra hingga Alqur an kini dikenal
dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi
Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.
Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa
perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di
Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa
Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar
shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra
dan baru dilakukan dimasa Utsman bin Affan ra,
dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari
hadits no.873). Siapakah yang salah dan
tertuduh, siapakah yang lebih mengerti larangan
Bid'ah, adakah pendapat mengatakan bahwa
keempat Khulafa urrasyidin ini tak faham makna
Bid'ah Bid'ah Dhalalah Jelaslah sudah bahwa
mereka yang menolak Bid'ah hasanah inilah
yang termasuk pada golongan Bid'ah dhalalah,
dan Bid'ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti
penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat,
penolakan pendapat Khulafa urrasyidin,
nah..diantaranya adalah penolakan atas hal baru
selama itu baik dan tak melanggar syariah,
karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul
saw dan dilakukan oleh Khulafa urrasyidin, dan
Rasul saw telah jelas jelas memberitahukan
bahwa akan muncul banyak ikhtilaf,
berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah
Khulafa urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul
saw, beliau saw membolehkan Bid'ah hasanah,
bagaimana sunnah Khulafa urrasyidin, mereka
melakukan Bid'ah hasanah, maka penolakan atas
hal inilah yang merupakan Bid'ah dhalalah, hal
yang telah diperingatkan oleh Rasul saw. Bila kita
menafikan (meniadakan) adanya Bid'ah hasanah,
maka kita telah menafikan dan memBid'ahkan
Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi
panduan ajaran pokok Agama Islam karena
kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak
ada perintah Rasulullah saw untuk
membukukannya dalam satu kitab masing-
masing, melainkan hal itu merupakan ijma/
kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu
anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah
saw wafat. Buku hadits seperti Shahih Bukhari,
shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah
Rasul saw untuk membukukannya, tak pula
Khulafa urrasyidin memerintahkan menulisnya,
namun para tabi in mulai menulis hadits Rasul
saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits,
Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat
memahami kedudukan derajat hadits, ini semua
adalah perbuatan Bid'ah namun Bid'ah Hasanah.
Demikian pula ucapan "Radhiyallahu anhu" atas
sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah
saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di
sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para
sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam
Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan
untuk mengucapkan ucapan itu untuk
sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi
in pada Sahabat, maka mereka menambahinya
dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan
Bid'ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu
muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di
CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-
Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah
Bid'ah hasanah. Bid'ah yang baik yang berfaedah
dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin,
karena dengan adanya Bid'ah hasanah di atas
maka semakin mudah bagi kita untuk
mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca
Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran
dan tidak ada yang memungkirinya. Sekarang
kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah
Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para
Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada
perkembangan sejarah Islam Al-Quran masih
bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta,
hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian
dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi
Al-Quran di zaman sekarang, karena semua
orang akan mengumpulkan dan
membukukannya, yang masing-masing dengan
riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran
dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya
Bid'ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal
Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid'ah
Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-
hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini
kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul
saw yang telah membolehkannya, beliau saw
telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal
baru yang berupa kebaikan (Bid'ah hasanah),
mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah
melarang hal hal baru yang berupa keburukan
(Bid'ah dhalalah). Saudara saudaraku, jernihkan
hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan
Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan
ucapannya adalah Mutiara Alqur an, sosok
agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai
Bid'ah hasanah : "sampai Allah menjernihkan
dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat
dengan Umar". Lalu berkata pula Zeyd bin
haritsah ra :"..bagaimana kalian berdua
(Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yang tak
diperbuat oleh Rasulullah saw, maka Abubakar
ra mengatakannya bahwa hal itu adalah
kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra)
meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah
menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini
aku sependapat dengan mereka berdua". Maka
kuhimbau saudara saudaraku muslimin yang
kumuliakan, hati yang jernih menerima hal hal
baru yang baik adalah hati yang sehati dengan
Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra,
hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu
hati yang dijernihkan Allah swt, Dan curigalah
pada dirimu bila kau temukan dirimu
mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu
belum dijernihkan Allah, karena tak mau
sependapat dengan mereka, belum setuju
dengan pendapat mereka, masih menolak Bid'ah
hasanah, dan Rasul saw sudah
mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak
ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan
perbuatan khulafa urrasyidin, gigit dengan
geraham yang maksudnya berpeganglah erat
erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari
kalian hingga sehati dan sependapat dengan
Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra,
Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan
seluruh sahabat.. amiin Pendapat para Imam
dan Muhadditsin mengenai Bid'ah 1. Al Hafidh Al
Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris
Assyafii rahimahullah (Imam Syafii) Berkata
Imam Syafii bahwa Bid'ah terbagi dua, yaitu
Bid'ah mahmudah (terpuji) dan Bid'ah
madzmumah (tercela), maka yang sejalan
dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak
selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau
berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra
mengenai shalat tarawih : "inilah sebaik baik
Bid'ah". (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al
Qurtubiy rahimahullah "Menanggapi ucapan ini
(ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam
Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw
yang berbunyi : "seburuk buruk permasalahan
adalah hal yang baru, dan semua Bid'ah adalah
dhalalah" (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa
kullu bid atin dhalaalah), yang dimaksud adalah
hal hal yang tidak sejalan dengan Alqur an dan
Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat
radhiyallahu anhum, sungguh telah diperjelas
mengenai hal ini oleh hadits lainnya :
"Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik
dalam Islam, maka baginya pahalanya dan
pahala orang yang mengikutinya dan tak
berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan
barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk
dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa
orang yang mengikutinya" (Shahih Muslim
hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti
penjelasan mengenai Bid'ah yang baik dan Bid'ah
yang sesat". (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya
Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah
(Imam Nawawi) "Penjelasan mengenai hadits :
"Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik
dalam Islam, maka baginya pahalanya dan
pahala orang yang mengikutinya dan tak
berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan
barangsiapa membuat buat hal baru yang
dosanya", hadits ini merupakan anjuran untuk
membuat kebiasaan kebiasaan yang baik, dan
ancaman untuk membuat kebiasaan yang
buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian
dari sabda beliau saw : "semua yang baru adalah
Bid'ah, dan semua yang Bid'ah adalah sesat",
sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru
yang buruk dan Bid'ah yang tercela". (Syarh
Annawawi ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama
membagi Bid'ah menjadi 5, yaitu Bid'ah yang
wajib, Bid'ah yang mandub, Bid'ah yang mubah,
Bid'ah yang makruh dan Bid'ah yang haram.
Bid'ah yang wajib contohnya adalah
mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan
yang menentang kemungkaran, contoh Bid'ah
yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan
dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah
membuat buku buku ilmu syariah, membangun
majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yang
Mubah adalah bermacam macam dari jenis
makanan, dan Bid'ah makruh dan haram sudah
jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian
dan kekhususan dari makna yg umum,
sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah
tarawih bahwa inilah sebaik2 Bid'ah". (Syarh
Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal
154-155) Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam
Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
rahimahullah Mengenai hadits "Bid'ah Dhalalah"
ini brmakna "Aammun makhsush", (sesuatu
yang umum yg ada pengecualiannya), spt
firman Allah : ".. yang Menghancurkn segala
sesuatu" (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataanny
tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat :
"Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk
memenuhi jahannam dengan jin dan manusia
keseluruhanny" QS Assajdah-13), dan pd
kenyataannya bkn semua manusia masuk
neraka, tapi ayat itu bukan brmakna
keseluruhan tapi brmakna seluruh musyrikin
dan orang dhalim.pen) atau hadits : "aku dan hari
kiamat bagaikan kedua jari ini" (dan
kenyataanny kiamat masih ribuan tahun setelah
wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal
189).Maka bila muncul pemahaman di akhir
zaman yang bertentangan dengan pemahamn
para Muhaddits maka mestilah kita brhati hati
dari manakah ilmu mereka, brdasarkn apa
pemahaman mereka, atau seorang yang disebut
imam padahal ia tak mncapai derajat hafidh
atau muhaddits, atau hanya ucapan orang yg
tak punya sanad, hanya menukil menukil hadits
dan mentakwilkan semauny tanpa
memperdulikan fatwa fatwa para Imam
Walillahittaufiq
Allah berfirman dalam sebuah Hadis Qudsi,
dipetik dari Kitab Al-Mawa'iz karangan Al-Ghazali :-
Wahai anak-anak Adam,
Aku hairan kepada orang-orang yang yakin
dengan kematian, bagaimana ia masih
bergembira?
Aku hairan orang yang percaya adanya hari
perhitungan, tetapi ia masih leka mengumpul
harta,
Aku hairan orang yang yakin dengan alam kubur,
bagaimana ia masih ketawa?
Aku hairan orang yang yakin tentang hari akhirat,
bagaimana ia masih lagi leka?
Aku hairan orang yang yakin tetang dunia ini akan
musnah, tetapi ia tetap tenang diatasnya.
Aku hairan kepada orang-orang yang alim
lidahnya tetapi jahil tentang hatinya.
Aku hairan kepada orang yang membersih
dengan air tetapi ia tidak membersih dengan hati.
Aku hairan dengan orang yang suka mengambil
tahu tentang keburukan orang lain, sedangkan ia
lupa pada keburukan dirinya,
atau orang yang tahu sesungguhnya Allah akan
membongkar segala maksiat yang ia lakukan,
atau orang yang tahu ia akan mati keseorangan
dan bersendirian di dalam kubur dan akan di
hisab berseorangan, bagaimana ia masih lagi
bersuka ria bersama manusia?
Tidak ada Tuhan selain dari Aku dan Muhammad
itu hamba-Ku dan Rasul-Ku
[ Dipetik daripada Prof Madya Mohd. Uzir
Kamaluddin , Pensyarah UiTM Malaysia ]